Pesan Untuk Ibu

1 Comment

Pada suatu hari sahabat Rasul bertanya : “Yaa Rasulullah siapakah orang pertama yang harus saya hormati di dunia ini??”. Rasul menjawab : “Ibumu..” Kemudian sahabat itu bertanya lagi : “Setelah Ibu, kemudian siapa lagi yaa Rasul yang harus saya hormati di dunia ini??”. Kemudian Rasul pun menjawab kembali : “Ibumu..”. Sahabat itu pun masih belum puas dengan pertanyaan yang kedua dan kemudian ia bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama : “Kemudian siapa lagi yaa Rasul??. Dengan penuh kesabaran Rasul pun menjawab : “Ibumu..”. Masih belum puas dengan jawaban ketiganya sahabat itu pun bertanya lagi kepada Rasulullah Saw. : “Lalu siapa lagi yaa Rasulullah orang yang harus saya hormati??”. Rasulullah pun menjawab dengan jawaban yang berbeda dengan sebelumnya : “Ayahmu..”

Dari cuplikan hadist di stas terlihat jelas betapa ibu adalah sosok yang penting bagi kehidupan kita. Beliau adalah orang bertama yang kita temui, bahkan sebelum kita lahir ke dunia. Dengan susah payah mengandung 9 bulan, melahirkan dan membesarkan kita. Tak peduli seberapa bandel dan nakal kita ibu selalu menjadi orang yang dengan tulus memberikan kasih sayangnya.

Bagi sebagian orang ibu seperti teman. Menjadi tempat berbagi, tempat mengungkapkan keluh kesah. Namun kadang beliu juga menjadi ‘lawan’ saat kita berbeda pemikiran. Namun kita mungkin terlupa setiap omelan dan dan kemarahan bukan karena beliau tidak sayang tapi justru karena beliau sangat perduli dengan kita.

Bagi sebagaian yang lain ibu, adalah sosok anugerah yang tuhan berikan kepadanya. Betapa limpahan kasih sayang yang tak henti-hentinya membuat hidupnya berwarna dan ceria. Kadang Ibu adalah sosok independen, pejuang yang memberikan kekuatan dalam keluarga. Beliau rela berkorban. Saat seseorang dalam keluarga mengalami kesulitan beliau menjadi sosok yang berdiri terdepan mengambil alih tanggung jawab, menjalankan tugas yang sulit. Tugas yang melampaui perannya sebagai seorang ibu.

 Tak terbatas itu, beliau adalah seorang yang selalu akan menerima kita apa adanya. Betapa nakalnya kita, betapa rapuhnya kita, atau betapa kita tidak berterima kasih. Itu semua tak akan mengahalangi beliu untuk menjadi tempat sandaran disaat kita rapuh, jatuh dan kepayahan. Segala sifat negatif yang kita punya tak akan menghalangi beliau untuk men-support kita menghadapi kehidupan.

  ‘Ibu’, ‘bunda’, ‘mama’, ‘mih’, ‘mother’, ‘la mère’, ‘madre’, bagaimanapun kita memanggilnya. Beliau adalah sosok hebat. Sosok yang telah dan akan terus memberikan kasihsayang yang tak terbatas kepada kita. Sosok besar yang akan selalu berbesar hati memaafkan setiap kesalahan kita, semua kekhilafan yang kita perbuat. Sosok besar yang akan selalu setia berdoa, memohonkan rahmat dan ridho illahi agar tercurah kepada kita. Sosok besar yang tulus, memberikan tanpa sedikitpun mengharap balasan dari kita. Sosok hebat yang tak akan terganti sampai kapanpun juga.

Ibu terimakasih untuk semua hal yang telah kau berikan.

Terimakasih engkau telah menjadi seseorang yang membawaku kedalam kehidupan.

Terimakasih karena telah menjadi orang yang dengan penuh kasih sayang membesarkanku

Terimakasi karena engkau telah mengajarkan bagaimana aku harus menjalali hidup ini

Terimakasih untuk menjadi teman dalam berbagi dalam setiap kisah hidupku

Terimakasih untuk semua kesabaran dalam menghadapi sikapku yang keras kepala

Terimakasih engkau mau menjadi tempat bersandar saat aku merasa lemah

Terima kasih engkau talah menadi lentera yang menerangi jalan hidupku

Terimakasih.

INVICTUS

Leave a comment

INVICTUS

(William Ernest Henley)

Out of the night that covers me,

Black as the Pit from pole to pole,

I thank whatever gods may be

For my unconquerable soul.

 

In the fell clutch of circumstance

I have not winced nor cried aloud.

Under the bludgeonings of chance

My head is bloody, but unbowed.

 

Beyond this place of wrath and tears

Looms but the Horror of the shade,

And yet the menace of the years

Finds, and shall find, me unafraid.

 

It matters not how strait the gate,

How charged with punishments the scroll.

I am the master of my fate:

I am the captain of my soul.

 

 

Puisi diatas merupakan salah satu teman setia yang menemani dan menginspirasi Nelson Mandela dalam menghadapi hari-hari di penjara Robben Island. Invictus adalah sebuah puisi victorian, karya penyair Inggris William Ernest Henley. Yang ditulis tahun 1875 dalam buku “Book of Verses”. Invictus sendiri merupakan kata dalam bahasa latin, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berarti unconquered, undefeated, invincible. Sedangkan Nelson Mandela adalah salah satu tokoh besar dunia, mantan Presiden Afrika Selatan, peraih Nobel Perdamaian tahun 1993 dan yang terpenting dia adalah seorang pejuang.

Pada tahun 1962, Mandela dihukum dihukum penjara seumur hidup karena menentang pemerintah Afrika Selatan yang menjalankan politik Apartheid. Dalam penjara Mandela tidak kehilangan semangat untuk memperjuangkan persamaan hak antara kulit hitam dengan kulit putih. Meski berbagai perlakuan yang tidak mengenakkan harus dia alami. Mulai dari sel penjara yang tidak layak, melakukan pekerjaan kasar di pertambangan hingga rantai yang mengikat di kaki.

Tubuh Mandela mungkin saja terkungkung dalam batasan dinding dan terali-terali besi, ”Malam yang menyelimutiku, Gelap pekat dari kutub ke kutub.”.  Namun pikiran dan semagatnya terbang tinggi melampaui semua batasan tersebut. “Aku berterimakasih kepada Tuhan. Untuk jiwa yang tak terkalahkan.

Tubuhnya boleh lelah, terluka ataupun berdarah tapi tak ada satu lukapun dalam jiwanya. Peluh bercucuran dari badannya, air mata menetes dari matanya namun tak ada jeritan dendang dan tangisan penyesalan dalam hatinya.“. Aku tidak meringis atau menangis keras. Kepala saya berdarah, tapi tidak tertunduk.”.

Mandela adalah orang yang kuat setiap rintangan yang dia terima dia hadapai dan itu menambah kematangan berpikir dan bertindaknya. Alih-alih melemah pengaruh Mandela justru semakin meningkat. Para penduduk kulit hitam menjadikan Mandela sebagai simbol yang mampu menyatukan dan memperjuangkan hak-hak mereka.

Mandela benar-benar orang yang hebat. Bahkan setelah apa yang dia lalui di penjara kata-kata pertama yang dia katakana adalah …saya telah mamaafkan semua, dan marilah kita bangun negara ini bersama…

Ancaman-ancaman yang diberikan di penjara justru membuat Mandela semakin kuat. “Ancaman dari tahun ketahun. Akan menemukan aku tanpa ketakutan.”. Karena bukan dimana jasad kita berada yang menentukan nilai kita, tapi bagaimana kita menghargai keadaan dan berjuang untuk sesuatu yang kita impikan. Karena Akulah penguasa nasibku. Aku adalah kapten jiwaku. .


Sepakbola dan Nasionalisme

2 Comments

Kemarin aku untuk kesekian kalinya aku menyayikan lagu Indonesia Raya. Well, maybe for some of you there’s nothing special with it. Ya mungkin karena sebagai bangsa Indonesia kita terbiasa untuk menyayikan lagu Indonesia Raya sejak SD dalam upacara bendera. Namun kali ini benar-benar beda, percaya atau tidak ini adalah lagu Indoneaia Raya ter’dalam’ yang pernah kunyanyikan. Bukan karena kunyayikan di hari kemerdekaan atau hari pahlawan ,tapi karena kunyanyikan saat menyaksikan laga garuda-garuda muda di Gelora Bung Karno.

Ya berdiri tegak bersama-sama puluhan ribu supporter Indonesia, meletakkan tangan di dada menyayikan Indonesia Raya, bergemuruh memenuhi atmosfer, berteriak membakar semangat dan nasionalisme  garuda-garuda muda yang bertanding dilapangan. Di sini tidak ada perbedaan antara si jawa dengan si bata, si kaya dengan si miskin, pejabat dengan rakyat jalata. Yang ada hanyalah satu warna ‘merah’, merah semerah semangat dan darah para pejuang merebut kemerdekaan.

Sekarang sepak bola bukan hanya sekedar olah raga biasa. Sepak bola telah bersinergi dengan setiap ‘merah’ darah dan ‘putih’ tulang generasi muda. Sepakbola telah menjadi alat pemersatu bangsa. Betapa tidak, mulai dari piala AFF kemarin sampai perhelakan Sea Games ke-26 ini, kecintaan akan tim merah-putih telah menyatukan segenap lapisan masyarakat, menjadi pengetar ditengan carut-marut penegakan hukum, kecacatan perilaku para politisi hingga himpitan ekonomi. “Di sepanjang jalan Soedirman boleh saja banyak skyscrapers yang menunjukkan dominasi asing, namun ada satu tempat yang selamanya akan tetap menunjukkan nasionalisme anak bangsa. Karena disitulah garuda-garuda bangsa bertanding, tempat itu adalah Gelora Bung Karno”.

Kalau dulu dalam pelajaran civic (kewarganegaraan), kita diajarkan bahwa faktor pendorong integrasi nasional kita seperti rasa senasip sepenanggungan, peristiwa summpah pemuda 1928, simbol-simbol kenegaraan maka sekarang kita sudah sepatutnya menambahkan sepak bola sebagai faktor pendorong integrasi nasional. Timnas merupakan representasi keragaman bangsa yang bersatu membela panji merah putih. Lihat saja meski di Papua tengah memanas tapi para putra-putra terbaik mereka seperti Oktavianus maniani, Titus Bonai, Patrick Wanggai, Lukas Mandowan dan Stevie Bonsapia nemunjukkan rasa nasionalisme tinggi membela garuda.

Tanpa mengecilkan arti penting lagu-lagu perjuangan seperti maju tak gentar, namun lagu-lagu sepak bola seperti garuda di dadaku, lebih mampu menumbuhkan rasa nasionalisme generasi muda. Begitu pula dengan seragam timnas, anak-anak kecil begitu bangganya mengenakan seragam merah bergambar garuda di dada. Berapa banyak anak-anak yang sekarang tak ragu lagi bermimpi membela timnas 10 atau 15 tahun lagi. Bukankah itu semangat nasionalisme yang hebat?! “Sepak bola telah menciptakan revolusi, mengantarkan kita dalam era baru dalam mengartikan rasa nasionalisme.”

Terbang tinggilah garudaku..

Dilema Penempatan*

2 Comments

Seorang pemuda duduk termenung di depan meja kerjaanya.saat itu pukul tujuh malam, dan masih ada dua tumpukan tinggi kertas-kertas kerjaan yang masih harus dia selesaikan. Fisiknya dan pikirannya letih. Ditengah pressure pekerjaan yang tinggi, pandanganya menerawang ke luar jendela. Dia melihat direkturnya keluar kantor, diantar sekertaris pribadi yang cantik, menuju ke mobil Mersedes hitam yang gagah. Kemudian dia bergumam dalam hati betapa enaknya menjadi direktur mendapat fasilitas yang mewah, jam kerjanya fleksibel pulang-pergi kantor seenaknya punya sekertaris pribadi yang cantik lagi. “Jika saja aku bisa menjadi direktur”.

Malam itu tuhan mendengarkan keinginankannya dan terjadilah ‘keajaiban’. Keesokan paginya, saat terbangun dia telah berada di sebuah hotel mewah. Saat itu pukul 6 pagi, dalam kebingungan datanglah seorang cantik menghampirinya, membawakan sarapan. Lalu dia bertanya apa yang terjadi. Gadis tersebut menjelaskan bahwa anda adalah seorang direktur perusahaan terkemuka. Pemuda tersebut menjadi takut meski dalam hatinya dia berkata “hmm asik2 keinginanku terwujud”.

Dua hari pertama dia begitu menikmati ‘posisi’ barunya sebagai direktur. Namun dihari ketiga dia mulai merasakan beratnya menjadi direktur. Bangun jam 6 pagi sarapan di mobil, rapat jam 9 sampai jam 12 siang. Jam 2 siang terbang ke Singapura ketemu investor asing. Jam 7 malam kembali ke jakarta untuk gala diner dengan menteri keuangan. Jam 10 malam kembali ke kantor untuk rapat mendadak dengan jajaran manajemen. Kegiatannya baru selesai jam 3 pagi. Dia merasa menjadi direktur tidak menjadikan dia bisa menikmati waktu.  Semua fasilitas yang dia dapat seakan-akan sia-sia.

Keesokan paginya, dia melakukan kunjungan kerja di salah satu anak perusahaannya di daerah pinggiran jogja. Diperjalanan, dari mobil Mersedes hitamnya yang mewah, dia melihat bapak petani duduk di pinggiran hamparan sawah yang hijau, beristirahat siang sambil makan ‘sego kucing’ dan minum secangkir kopi hitam. Wajahnya tampak tenang, tak peduli pergerakan IHSG pagi ini atau pada kenaikan suku bunga BI. Dalam hati dia berkata “alangkah damai hidup tukang becak itu, anda hidupku sedamai itu”.

Dan sekali lagi tuhan mengabulkan keinginannya, keesokkan paginya dia terbangun sebagai seorang petani didaerah pedesaan yang tenang. Dua hari pertama dia bisa menikmati ‘posisi’ barunya sebagai petani. Bekerja di kawasan pedesaan dengan udara segar, tanpa kebisingan kendaraan bermotor dan yang terpenting tak peduli hari ini IHSG, Dow Jones mau turun atau naik. Bahkan dalam hatinya “jika hari ini BI bangkrut sekalipun tak peduli”. Namun sekali-lagi di hari ketiga dia merasakan beratnya hidup sebagai petani. Dia harus bekerja dari pagi hingga siang membajak sawah di bawah terik matahari. Kesulitan mendapatkan pupuk. Harga gabah yang dipermainkan tengkulak hingga berurusan dengan renternir desa yang ‘kurang ajar’.

Pada titik ini dia tersadar bahwa kadang sesuatu yang kita inginkan tidak selamanya akan membawa kebahagiaan dalam hidup. malam harinya dia berdoa, agar tuhan mau mengembalikan dia pada ‘posisi’nya semula.

Jika ditanya pada ODP apa yang merisaukan anda saat training, maka pasti serentak akan menjawab ‘penempatan’. Meski dari awal telah ditegaskan bahwa kerjaan ini terdapat tour of duty yang mengharuskan setiap pekerjanya siap ditempatkan di semua unit kerja di seluruh indonesa. Namun tetap saja tidaklah mudah untuk menerima keputusan penempatan kerja. Bahka beberapa orang terlihat takut untuk ditempatkan di unit kerja atau tempat kerja yang tidak sesuai dengan keingiinannya. Beberapa orang bersikeras untuk bekerja di tempat tertentu apapun unit kerjanya atau ada yang ingin masuk ke unit kerja tertentu tak peduli tempatnya. Ada yang ingin pulang kekampung halamannya, ada yang penting dapat penempatan di jakarta, ada yang mau masuk unit kerja yang sesuai background pendidikannya dan ada yang mau bekerja di unit kerja manapun selain kredit.

Well, bukannya itu salah, bahkan itu sangat manusiawi. Tapi ada yang dilupakan, manusia kadang hanya mengejar apa yang diinginkan tanpa melihat lebih jauh konsekuensinya. Kadang apa yang kita lihat itu tidak semanis yang akan terjadi. Cerita di atas menunjukkan bahwa kadang kehidupan di dunia tidak semanis yang diharapkan.

Bukan berarti aku menyarankan untuk ‘nrimo’ saja atas semua yang terjadi, “yah mau dimanapun ok lah”, bukan. Everything happen for a reason, semua hal di dunia ini terjadi pasti ada alasan dan hikmahnya. Tuhan tidaklah meninggalkan umatnya terkatung-katung menjalani hidup. Dia pasti punya jalan bagi tiap-tiap umatnya. Hanya saja kadang kita tidak tahu, tidak mensukuri dan meminta terlalu banyak.

Mungkin bagi pemuda tadi beban kerjanya yang berat merupakan saranya pembelajaran untuk nantinya dia siap untuk menjadi pemimpin. Saat itu Tuhan ingin dia belajar, Tuhan ingin dia menjadi person yang lebih baik. Yakinlah jika kita melakukan sesuatu yang baik maka Tuhan akan menunjukkan jalan yang terbaik pula buat kita.

Dengan menulis tulisan ini aku tidak bermaksut untuk menjadi orang bijak yang ‘mengurui’ kalian (karena jalas aku bukan orang bijak tentunya, dan aku tahu kalian semua jauh lebih bijak dari aku… atau mungkin sebenarnya akulah orang yang paling takut diantara teman2 terkait penempatan.. hehe..:P). Yang ingin aku sampaikan adalah jangan sampai ketakutan kita akan penempatan menghalangi keceriaan hidup ini. Aku hanya ingin mengajak untuk melihat dari sudut pandang yang lain: yakinlah di mana pun kita akan ditempatkan itu adalah ‘batu pijakan’ awal kita menjadi orang hebat. Karena berlian tetaplah berlian meski jatuh di lumpur dan dia akan tetap berkilau.. 🙂

*tulisan ini aku dedikasikan untuk 21 orang teman-teman di ODP batch 90.. bon courage!!

Berhenti Sejenak

Leave a comment

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda-gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”(QS 47:36)

Hari ini umat muslim seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha. Idul Adha merupakan penginggat atas ketakwaan dua hampa pilihan Allah, Nabi Ibrahim dan Ismail a.s. Keduanya adalah hamba Allah yang berhasil lolos dari proses ‘penyeleksian ’. Mereka rela mengorbankan sesuatu yang saat berharga. Ibrahim rela mengorbankan anak yang sangat dia sayangi, sedang bagi Ismail kecil dia rela mengorbankan nyawanya. Semata-mata demi ketaatan kepada Allah, Rabb semesta alam.untuk itu Allah membalas ketaatan mereka dengan menganti Ismail yang akan disembelih dengan seekor domba, peristiwa itu kemudian mendasari ibadah kurban yang dilaksanakan kaum muslim hingga sekarang.

Diaat yang bersamaan, dalam bulan Dzulhijah ratusan ribu umat Islam seluruh dunia melaksanakan Ibadah Haji, sebagai ketaatan menjalankan rukun Islam yang ke-lima. Kemarin tanggal 9 Dzulhijah, puncak ibadah haji terjadi saat semua peserta haji berkumpul melaksanakan Wukuf di padang Arafah. Semua jamaah haji berkumpul memakai dua helai pakaian ihram, melepaskan seluruh harta yang dimiliki, semua pangkat dan jabatan. Tanpa membedakan ras, warna kulit dan asal negara. Semua sama, manusia hanyalah ciptaan yang lemah dihadapan Allah, Tuhan yang maha kaya lagi maha perkasa.

Wukuf secara harfiah diartikan menjadi berhenti. Para jamaah haji diminta berdoa khusuk di padang Arafah, sebagai simulasi bahwa nantinya kita akan dikumpulkan di padang Maksar menjalani hisab, mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita. Bukan harta, jabatan, kekuasaan kita yang dihisab tapi amal-amal kita. Apakah kita telah menjalani hidup sesuai dengan jalan agama Allah yang lurus ataukah dunia telah melalaikan kita.

Dalam Surat Muhammad ayat 36, dijelaskan bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda-gurau belaka, jangan samoai kita lupa akan hakekat kita hidup di dunia ini. Tapi kebanyakan manusia terlena akan keindahan duniawi. Ketamakan membuat manusia berlomba-lomba mencari harta, pangkat dan jabatan bahkan dengan cara yang haram. Padahal sekali-kali harta, jabatan bahkan istri dan anak-anak mereka tidak menambah keimanan dan ketakwaan mereka justru hanya membuat mereka jauh dari Allah.

Untuk itu dalam momentum ini dengan semangat wukuf, kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Kita renungkan setiap tindakan, setiap yang kita miliki telah mendekatkan kita kepada Allah atau justru sebaliknya. Dunia ini bergerak terlalu cepat, tiap-tiap orang orang sekarang hanya sibuk mencari kehidupan dunia. Mereka tanpa malu mengenakan ‘topeng-topeng’ keserakahan. Melupakan tujuan hidup sebenarnya. Padahal kehidupan di dunia hanya semu dan sementara dan ada kehidupan yang lebih kekal. Sungguh celaka orang-orang yang menukar kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia.

Memang Allah mengajarkan kita untuk tidak melupakan kehidupan dunia. Tapi perlu diingat perlu ada keseimbangan. Jangan kita hanya terlenan mencari dunia sehingga melupakan akhirat. Jangan sampai baru penyesalan datang saat ajal menjelang

Seperti kata Mario Teguh, Belajarlah untuk lebih tenang dan lebih hening. Kehidupan ini tidaklah keras, padat, berisik, dan sibuk seperti yang kita lihat. Kehidupan ini gaib dan magis, sehingga tidak terlihat kecuali oleh pikiran yang tenang, dan tidak terdengar kecuali oleh hati yang hening. Yang kita lihat dan dengar di sekitar kita ini hanya bayangan dan gema dari kehidupan yang sebenarnya. Tenang dan heninglah. Itu adalah cara untuk berada dalam kehidupan yang penuh pengertian.

Akhirnya hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada dialah kita memohon pertolongan:

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hokum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tak sanggup memikulnya. Berimaaflah kami, ampuni kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS 2:286)

kakek tua dan gerobak sayur

Leave a comment

Sudah sekitar satu bulan aku berada sebuah daerah di Jakarta. Daerah ini terkenal dengan daerah yang lumayan padat. Jalan-jalan didaerah ini sebenarnya relatif kecil namun ada sesuatu yang unik. Mobil-mobil yang melintas adalah mobil-mobil mewah ukuran besar yang sebenarnya tidak matching dengan besarnya ruas jalan. sehingga sering menyebabkan kemacetan.

Rumah-rumah besar dan mewah berdiri kokoh di pinggir-pinggir jalan. Orang-orang yang tinggal disini adalah orang-orang kaya. rumah-rumah baru dibangun dan ditawarkan dengan harga yang mahal. Orang-orang yang menghabiskan uang 50-100 ribu untuk sekali makan adalah hal yang wajar. kondisi ini mengingatkanku tentang peristiwa beberapa bulan yang lalu.

Beberapa bulan yang lalu aku melihat sorong kakek menarik sebuah gerobak. Saat itu sekitar pukul setengan enam pagi aku sedang menunggu bus untuk berangkat ke Jogja. Suasana masih dingin dan matahari baru mulai terbit dari timur. Dari kejahuan terlihat seorang kakek menarik gerobak berisi sayuran. Dia memakai caping, tubuhnya kecil dan punggungnya bungkuk ke depan. Dia kesusahan mencoba menarik gerobak yang besarnya sekitar dua kali dari ukuran tubuhnya.

Saat telah dekat dia memelankan geraknya dan menawarkan sayuran kepadaku dengan suaranya yang pelan. Terlihat jelas kerut diwajahnya dan giginya telah banyak yang tanggal. Tubuhnya kecil, kurus kerontang seakan-akan tinggal tulang berbalut kulit. Usianya mungkin sekitar 70 tahun atau lebih tua dari itu.

Aku dengan berat hati menolak tawaranya untuk membeli sayuran. Dia kemudian berjalan lagi sambil menarik gerobak berisi sayuran tadi. Sambil kulihat dari jauh dia terus berjalan di pinggiran jalan raya . Sesekali mobil-mobil melintas, membawa terpaan angin yang menghambat langkahnya yang berat. Diakhir semua perjuangan tersebut, kakek itu mungkin hanya akan menerima hasil tidak lebih dari 25 ribu perhari. Hasil yang akan digunakan untuk meneruskan hidupnya dan keluarga. Sebuah perjalanan berat yang mungkin tak pernah diinginkan olehnya.

Kontradiksi ini membuatku merasa ada yang salah dengan kehidupan ini. Sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manapun terlebih hati nurani. Kehidupan semakin sulit untuk dimengerti. Orang-orang bergerak menjauh ke arah kutub yang berlawanan. Orang kaya semakin kaya dan sebaliknya. Ada ‘ruang kosong’ yang saling tak mengisi dan tak saling mengerti. ‘Ruang kosong’ yang mulai ditinggalkan oleh hati nurani manusia.

Bagi kakek tua menarik gerobak sayur. Hidup ini telah lama menjadi sesuatu yang besar berat dan sulit untuk dipikul. Disaat banyak orang semakin kaya maka baginya, hidup hanyalah bagaimana menyambung hidup. menyambung hidup dengan menyusuri jalan-jalan tiap hari menarik gerobak sayur.

Meski aku merasa ada yang salah tapi sampai detik ini aku tidak tahu persis dimana yang salah atau siapa yang pantas untuk dipersalahkan. Atau mungkin tidak seharusnya kita sibuk mencari apa yang salah atau siapa yang salah? Kakek itu tahu bahwa hidup ini yang berat dan diluar sana ada banyak ‘ketidakadilan’. Namun dari tatapannya saat itu terlihat jelas bahwa dia tidak pernah menyalahkan apa atau siapa atas ‘ketidakadlilan’ ini. Dia hanya mencoba untuk mengisi ruang kosong. Mencoba untuk saling mengisi dan saling memahami.

Kakek tua itu, siapapun dia telah mengajarkan bahwa sudah saatnya kita berhenti untuk melihat dunia sebatas dari materi. Ada tanggung jawab untuk mengisi ‘ruang kosong’ yang mulai ditinggalkan oleh hati nurani manusia, meski hanya dengan tindakan yang sederhana. Sesuatu sederhana yang dilakukan dan dimulai dengan ketulusan untuk berbagi.

tulisan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu. tulisan ini hanya bentuk rasa kegelisahan atas realitas kehidupan. terima kasih.

Arjuna Wiwaha

Leave a comment

Tapa brata Arjuna

Tujuh sosok cantik nampak sibuk merias diri di pingir sungai yang menalir di Gunung Indrakila. Paras-paras cantik alami meraka memancarkan pesona yang membuat semesta alam tersipu. Mereka adalah tujuh bidadari yang hari itu akan melakukan sesuatu yang penting. Mereka dikirim untuk menuji kelayakan seorang anak manusia dalam bertapa mencari kekuatan untuk membantu saudaranya. Seorang pria yang akan mengukir tinta emas dalam sejarah. Sesorang berparas rupawan, sakti mandraguna dan berbudi luhur. Dia adalah Arjuna sang panengah Pandawa.

Arjuna oleh Batara Indra dipandang mampu menjadi penyelamat Kahyangang dari serangan Niwātakawaca. Niwatakawaca adalah seorang raksasa sakti yang mengancam akan menyerang dan menghancurkan Kahyangan Batara Indra jika ditolak untuk mempersunting bidadari bernama Suprabha. Tapi sebelumnya Arjuna pun harus diuji.

Ketujuh bidadari itu pun berjalan menembus keindahan alam Gunung indrakila dan sampailah di gua tempat Arjuna bertapa. Mereka pun mencoba menggagalkan tapa brata Arjuna dengan paras ayu dan pesona mereka. Namun Arjuna adalah ksatria yang berpegang teguh pada prinsipnya. Dia tidak sedikitpun tergoda dengan dengan godaan para Bidadari. Para bidadaripun kembali ke kayangan, mereka sampaikan kepada Batara Indra tentang kesungguhan hati Arjuna.

Kemudian Batara Indra sendiri yang turun untuk menguji kemurnian hati Arjuna. Diapun turun dari kayangan menuju Gunung Indrakila. Sesampainya di gua tempat Arjuna bertapa, Batara Indra merubah wujudnya menjadi seorang tua renta. Dengan wujud yang telah berubah Batara Indra masuk kedalam gua, dia berjalan perlahan dibantu oleh tongkatnya. Kemudian bertemulah dia dengan Arjuna. Arjuna yang melihat orang tua yang bungkuk berjalan terbopoh-bopoh hampir terjatuh kemudian menghentikan tapa bratanya dan menghampiri orang tua tersebut. Namun Batara Indra justru tersenyum. Karena apa dilakukan Arjuna sebagai wujud rasa peduli dan hormatnya kepada orang tua bukan sebagai kegagalan pertapaan.

Niwātakawaca mendengar bahwa para dewa meminta bantuan Arjuna maka ia pun mengutus raksasa bernama Muka untuk membunuh Arjuna. Muka berubah wujudnya menjadi seekor babi hutan kemudian mengamuk di Indrakila. Arjuna yang merasa terganggu kemudian keluar dari gua pertapaannya. Untuk menghentikan gangguan babi hutan Arjuna kemuadian menarik anak panahnya dan memanahkannya kearah kearang babi itu. Namun pada saat bersamaan ada panah pemburu Kirata  yang sama-sama mengenai babi tersebut.

Terjadilah perselisihan antara Arjuna dan orang Kiraṭa itu tentang siapa yang telah membunuh binatang itu. Perselisihan tersebut berujung pada perkelahian. Arjuna yang hampir kalah, memegang kaki lawannya, tetapi pada saat itu wujud si pemburu lenyap dan Siwa menampakkan diri sebagai ardhanarīśwara ‘setengah pria, setengah wanita’ di atas bunga padma.

Arjuna kemudian m mengungkapkan pengakuannya terhadap kekuatan dan kebijaksanaan Siwa. Sebagai balasan Siwa menghadiahkan kepada Arjuna sepucuk panah sakti Pasoepati. Dan dengan itu pula selesailah tapa brata Arjuna.

Peperangan dengan Niwātakawaca

Setelah mendapatkan panah pasoepati maka Arjuna ingin kembali kepada Pandawa merebut kembali Amertha dari Kurawa. Selama ini Pandawa hidup dalam pengasingan dan kehilangan hak atas kekuasaan di Amertha setelah kalah bermain judi 12 tahun yang lalu. Dan saat ini adalah saat yang tepat bagi Arjuna dan saudaranya untuk kembali ke Amertha.

Namun ditengah keinginan untuk membantu saudaranya datanglah dua apsara ‘makhluk setengah dewa setengah manusia’, menyampaikan pesan dari Batara Indra yang intinya Arjuna bersedia membantu para dewa menghadapi Niwatakawaca. Arjuna merasa ragu-ragu, karena dia berkewajiban membantu saudaranya tetapi karena Arjuna berjiwa ksatria dia akhirnya setuju.

Namun Niwātakawaca adalah seorang raksasa sakti yang bahkan dewa pun tak sanggup untuk membunuhnya. Untuk itu Batara Indra mempunyai ide untuk mencari tahu kelemahan Niwātakawaca dengan memanfaatkan rasa suka Niwātakawaca kepada bidadari Suprabha.

Maka pada bulan purnama Suprabha ditemani Arjuna menuju ke kerajaan Niwātakawaca. Dalam skenarion batara Indra, Suprabha seakan-akan meningggalkan kahyangan dengan kemauan sendiri dan ingin menjadi istri dari Niwātakawaca. Padahal Suprabha diutus untuk mencari tahu kelemahan Niwātakawaca.

Di taman sari Niwātakawaca meminang dan merayu Suprabha, dengan pintar Suprabha meminta waktu hingga fajar guna memenuhi permintaan Niwātakawaca. Selama itu dia merayu Niwātakawaca untuk mengatakan kelemahannya dan k arena sedang di’mabuk asmara’ Niwātakawaca pun menceritakan rahasianya, bahwa titik lemahnya ada di ujung lidahnya. Saat fajar Suprabha bersama Arjuna dengan ‘ajian’ kasap mata meyelinap pergi dari kerajaan Niwātakawaca dan kembali ke kahyangan.

Mengetahui dia ditipu maka Niwātakawaca pun marah dan memerintahkan pasukannya untuk menyerang kahyangan. Maka terjadilah pertempuran sengit di kahyangan batara Indra. Niwātakawaca dengan kesaktiannya membuat para dewa kewalahan. Kemudian Arjuna mempunyai siasat. Dia pura-pura melarikan diri sambil memancing perhatian  dan kemarahan Niwātakawaca. Niwātakawaca pun terrangkap dalam jebakan Arjuna, dia mengejar Arjuna dengan marah-marah sehingga mulutnya terbuka. Saat lengah maka Arjunapun memanahkan panah pasoepati kearah ujung lidah Niwātakawaca. Niwātakawaca pun tewas dan para raksasapun berhasil dikalahkan.

Pernikahan Arjuna

Keberhasilan Arjuna mengalahkan Niwātakawaca telah mengesankan para dewa. Batara Indra kemudian memberikan hadiah Selama tujuh hari (menurut perhitungan di surga, dan ini sama lama dengan tujuh bulan di bumi manusia) ia akan menikmati buah hasil dari kelakuannya yang penuh kebeberaniannya itu, ia akan bersemayam bagaikan seorang raja di atas singgasana Indra. Setelah ia dinobatkan, menyusullah upacara pernikahan sampai tujuh kali dengan ketujuh bidadari termasuk Suprabha.

Namun kenikmatan surgawi tidak membuat Arjuna tenang. Didalam hatinya masih gelisah karena meninggalkan Pandawa. Akhirnya Arjuna memutuskan untuk kembali kedunia dan bergabung kembali dengan saudaranya. Dia merahasiakan pengalaman ini kecuai tentang panah pasoepati yang akan digunakan untuk  mengalahkan Kurawa.

Arjuna Wiwaha merupakan kekawin Jawa kuno karangan Empu Kanwa pada zaman kerajaan Kahuripan dibawah raja Airlangga. Kekawin ini merupakan gubahan dari cuplikan “wanaparwa” dalam epic mahabarata yang ditulis sekitar tahun 1032 Masehi.

Source:

Anonim. Kakawin Arjunawiwāha diunduh dari <http://id.wikipedia.org/wiki/Arjuna_Wiwaha&gt; tanggal 22/10/11

Ignatius Kuntara Wiryamartana, 1990, Kakawin Arjunawiwaha. Transformasi Teks Jawa Kuna. Yogyakarta: Duta Wacana University Press

P.J. Zoetmulder, 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Older Entries